Selasa, 24 April 2012

Andai Kartini Khatam Mengaji

Kemarin tepat tanggal 21 April adalah hari Kartini, hampir diseluruh tempat baik itu sekolahan, atau tempat kerja menyambutnya dengan berbagai perlombaan dan berbusana adat. Hal yang sering dilewatkan, pernahkah kita bertanya, kenapa harus sibuk bersanggul-sanggul ria atau bermake-up hanya untuk sekedar memperingati Hari Kartini. Padahal tujuan RA Kartini sebenarnya bukan seperti itu. 
saya menemukan twit yang mengingatkan saya pada artikel di selembar selebaran yang saya dapatkan waktu saya kuliah dulu. setidaknya twit dari Ahmad Gozali sinkron dengan apa yang dulu pernah saya baca.

Twit dari Ahmad Gozali

Teringat dengan kata-kata "Mina Dzulumaat Ila Nuur" persis sama dengan artikel yang saya baca. Dan secara kebetulan pada hari itu saya menemukan artikel yang dimaksud, tanpa sengaja di kardus buku-buku. Klop sekali bukan? dan saya mau membaginya mencoba share pada kawan-kawan. Artikel itu berjudul.
"Andai Kartini Khatam Mengaji"
saya repost kembali ya, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita tentang Kartini.

RA. Kartini

" Andai Kartini Khatam Mengaji (Repost)  
 
Sejarah penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah Hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bias berarti beda jika kacamata baca manusia juga beda. Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta. Demikian halnya denga perjuangan Kartini.  Benarkah Kartini menginginkan kaum wanita mengejar kesetaraan kedududkan dengan kaum laki-laki di semua bidang?

Obyektivitas adalah syarat utama untuk mengkaji sebuah sejarah. Tanpa ada semangat obyektivitas, sebuah peristiwa sejarah dapat dimaknai dan disalahgunakan sesuai dengan kepentingan pihak yang bersangkutan. Untuk mendukung sebuah pendapat atau mewujudkan sebuah tujuan, kisah sejarah bias dipenggal, dihilangkan atau justru ditambahi penekanan pada bagian-bagian tertentu. Penyusunan sejarah seperti ini hanya akan mengantarkan masyarakat kepada sebuah kesimpulan yang salah, bukan kepada pelajaran sebenarnya yang ada di balik kisah kehidupan sang tokoh.

Demikian halnya dengan sejarah R.A Kartini. Selama ini dipahami dan dicatat dari perjuangan Kartini adalah semangat emansipasi untuk menjadikan kaum wanita mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum laki-laki. Sehingga yang terlihat kemudian adalah wanita Indonesia tergopoh-gopoh untuk menempatkan diri pada posisi-posisi yang didominasi oleh kaum pria. Kata “Emansipasi” telah bergeser ke arah Liberal, Gender, Feminisme dan ide-ide penentang terhadap fitrah kaum wanita yang memang berbeda denganlawan jenisnya.

Menilik kehidupan seorang tokoh tak lepas dari lingkungan internal dan eksternal yang membentuk kepribadiannya. Kartini tumbuh dalam 2 suasana dan pemikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Sebagai keturunan ningrat, Kartini tumbuh di lingkungan yang kuat dengan adat istiadat.

Di satu sisi, keningratan yang ada padanya, memungkinkan Kartini untuk memiliki teman-teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dari surat-surat Kartini yang terhimpun, Nampak bahwa jalinan persahabatan ini telah menyumbangkan sebuah pemikiran tersendiri bagi perkembangan dirinya. Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat istiadat, di tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani untuk menentang semua adat itu “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu…, segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja. Kalau tidak membayangkan bagaimana rumitnya etika di dunia keningratan Jawa itu… tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Kartini, Kardinah, dan Roekmini

Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajahan Belanda teelah berhasil menamakan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah rendah dan bangsa Baraat adalah mulia.

Dan Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran daan rasa rendah diri yang dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan kaum penjajah.

Titik tolak perjuangan kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul ”Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa” kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir sermua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Depaartemen Angkatan Laut (Marine). Kartini merasa perlu untuk belajar ke Barat. ”Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Ssoer, 1900) Barat telaah menjadi panutan dan kiblat Kaartini untuk melepaskan diri dari Kungkungan adat .”Pergi ke Eropaa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir.” (Surat Kartini kepada Stella 12 Januari1900). Namun cita-cita ini harus kandas di tangan para sahabatnya yang tak menginginkan Kartini memiliki pemahaman yang lebih maju lagi.

Pergolakan pemikiran setelah mengenal Islam. Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan pemikirannya. Ditengtah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran barat, Kartini mencoba mencari jawaban.

Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawwaban ataas pertanyaan-pertanyaan yang bergolaak di dalam pemikirannyaa. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan peengalaman yang tak mengenakkan dengan sang Ustadzah. Sang Ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan. ”Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritkan apa? Agama Islam melarang umatnyaa mendiskusikannya dengan umat agama lain. Laagi pula agamamuku karena nenek moyangku Islam.
Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidaak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab.

Disini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerrjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidaak sepatah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholehpun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukan begitu Stella? (Surat Kartini kepada Stella 6 November 1899).


Namun pertemuannya dengan Kyai haji Mohammad Sholeh bin Umaar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Kartini tertarik pada terjemahan surat Al-Ffaatihah yang disampaikan sang Kyai. Berikut petikan dialog antara kartini daan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Faadhilah Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.
 

”Kyai, perkenankan saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. ”Mengapa Raaden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya. ”Kyai selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an daalam bahasa Jawa. Bukannya Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagiaa dan sejahtera bagi manusia?”

RA. Kartini dan Suaminya R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Qur’aam ke dalam bahasa jawa. Pada haari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Al-Qur’an (Faizhur Rohman Fi Tafsiril Qur’an) jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah saampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islamdalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga belum selesai diterjemahkan seluruhnya Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa.

Andai saaja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Qur’an maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajara-Nya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adat yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang poligami. Tetapi setelah mengenal Islam, beliau mau menerimanya.

Upaya Meneladani Kartini Upaya untuk menterjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini menegaskan kesalahan penterrjemahan kaum wanita Indonesia.

”Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, nukan sekali-kali karena kami menginginkan anakl-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki daalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Tak ada sepatah kata pun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan, dan peran agar sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran daan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.

Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembelaan hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam seegala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikaan yang layak. Tak lebih ari itu.

Kartini bertekad menjadi seorang muslimah yang baaik dengan memenuhi seruan seruan Surat Al-Baqoroh ayat 193. Terma Minazh Zhulumaati Ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya telah mendorongnya utnuk merubah diri dan pemikiran yang salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya."

Artikel ini dipublikasikan oleh "Hizbut Tahrir Indonesia DPC Jember"

Menghargai jasa Kartini itu bukan dgn sibuk Berkebaya dan bersanggul, tapi kita sikapi dengan terus Berkarya dan siap memanggul (tanggung jawab). Seperti Semangat Kartini "Habis gelap terbitlah terang" yg jg berarti "Minazh Zhulumaati Ilan Nuur" sebagai ajakan untuk menyeru pada kebenaran..
 
Gambar : Diambil dari Pencarian Google.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari Berkomentar. :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...