Selasa, 06 September 2016

Sesorean di Kediri

Postingan ini sudah ngendap di Draft hampir setengah bulan, penyebab utamanya saya lagi keranjingan "ngegame" walah bahaya juga, mencoba lepas dari nonton Drama Korea, saya jadi asik baca komik online dan ngegame, Alhasil sering lupa waktu dan lupa kalau masih punya utang postingan di draft. Pengakuan ini perlu ya, karena buat teguran diri, kalau saya ini banyak malesnya, susah bener untuk konsisten dengan sesuatu hanya gara-gara kebanyakan "main" hihi. Baiklah saya mulai saja isi postingannya ya.


Catatan Rabu, 17 Agustus 2016

Sebelumnya di Grup Whatsapp "lumayan" rame akan pergi kemana setelah upacara bendera pas tanggal 17 Agustus, grup WA (Whatsapp) yang saya maksud adalah grup WA teman-teman kosan waktu di Jember Kosan J-48, saya pernah cerita tentang mereka di blog ini, kalau masih penasaran monggo baca tulisan tentang mereka (disini). Setelah ngobrol ngalor ngidul di WA, akhirnya saya yang sekarang di Jombang, dan bertetangga dengan Kediri tempat 2 orang (sebenarnya 3 orang, hanya satu orang ikut suaminya merantau) sahabat kosan J-48 berasal, yaitu mbak Kadek dan mbak Norma. Akhirnya saya putuskan akan menyambangi mereka, dan kebetulan sekali saya belum pernah ke Kota Kediri. Cukuplah waktu libur sehari untuk melancong ke Kediri, Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Setelah upacara rencananya saya akan langsung pergi ke Kediri, ternyata harus kerja dulu bikin laporan, dan terpendinglah beberapa jam pergi ke Kediri, singkat cerita akhirnya saya sampai di Kras, Kediri naik bis jurusan Trenggalek jam 12an siang. jarak Jombang-Kediri kurleb 1,5 jam tapi kalau bawa kendaraan sendiri bisa satu jam saja. Karena saya naik bis, jadi suka ngetem nungguin penumpang dan muter-muter kota kediri, kebetulan Kecamatan Kras ini letaknya dekat dengan Kota Tulungagung, jadi saya harus menempuh perjalanan setengah jam lagi.


Sesampainya di Kras, Kediri. saya sudah janjian dengan mbak Kadek (rumah mbak Kadek di Kras, Kediri) dan akan di Jemput di pasar Kras, rumah mbak Kadek berada dibelakang pasar. Dan yang bikin saya takjub, saya dijemput mbak Kadek dengan naik motor, waktu di Jember dulu mbak Kadek ini gak bisa bawa sepeda motor, jadi dia selalu jadi pembonceng setia siapapun yang bawa motor, dan yang lebih hebat lagi, mbak Kadek ini hampir menyelesaikan kursus menyetirnya nyetir mobil lho, wah keren untuk hal ini saya kalah sama mbak Kadek, sampai detik ini saya belum ada nyali buat bawa mobil sendiri, sebenarnya bisa hanya belum ada nyali, hiks semoga nyali saya semakin bulat buat bawa mobil, bukan buat gaya-gayaan tapi memang sudah jadi kebutuhan perempuan itu harus bisa bawa kendaraan terutama motor dan mobil.

Setelah sepuluh tahun, akhirnya kembali bertemu mbak kadek, ketemu lagi dengan mbak Kadek dan yang membahagiakan saya bisa sampai dirumah mbak Kadek, bukan Cinta dan Rangga saja yang butuh ratusan purnama, kitapun begitu, akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah Bapak Made sekeluarga. Oia Pak Made ini nama bapaknya mbak Kadek, sudah bisa ditebak dari namanya kan, mereka ini keturunan Plau Dewata, Bali, hanya sudah bertahun-tahun di Kediri, mbak Kadek saja lahir dan bekerja sebagai abdi negara di Kediri. Pak Made sekeluarga yang saya dan teman-teman kosan J-48 kenal adalah sosok bapak yang murah senyum, baik banget dan selalu tertawa. Dan ternyata beliau masih sama awet muda saat pertama kita mengenal beliau, intinya keluarga ini tidak banyak berubah, masih awet muda dan dan super duper ramah. Baru sampai saja saya sudah disuruh makan, tahu saja kalau saya memang lapar gara-gara fokus merhatiin jalan takut kelewatan turun. Sembari makan, saya dan mbak Kadek ngobrol sana sini, dan banyak hal yang ingin kita bagi selama 10 tahun tidak berjumpa. 

Sekitar jam 2an saya dan mbak Kadek berangkat berpetualang ke Kediri, sebelumnya mbak Kadek sempat menanyakan pada saya akan dibawa kemana kalau main ke Kediri. Nah mumpung di Kediri saya penasaran dengan Bangunan yang mirip Arc de triompe di Paris. Arc de triomphe de l'Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe adalah monumen berbentuk Pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l'Étoile, di ujung barat wilayah Champs-Élysées (Sumber : Wikipedia). Nama bangunan yang mirip Arc De Triompe di Kediri itu adalah Simpang Lima Gumul Kediri. Kebetulan di media sosial terutama Instagram, termasuk bangunan yang banyak diminati kawula muda dan merupakan tempat nongkrong keluarga dan anak-anak Hits Kediri. Perjalanan dari rumah mbak Kadek ke Simpang Lima Gumul (SLG) itu memakan waktu sekitar 45 menit, jauh juga karena letak SLG berada di kabupaten Kediri. Saya hanya bisa bilang luar biasa, Bangunannya keren, persis seperti yang berada di Paris, hanya beda diornamennya yaitu Tema Indonesia, menunjukkan bahwa di Indonesia masih menyimpang banyak spot menarik dan gak kalah keren dengan yang diluar. Tak perlu Visa saya bisa merasakan aura Paris made in Kediri, East Java. Pemanasan sebelum melihat yang di Paris, datanglah ke Kediri di Simpang Lima Gumul.

Sebelum melihat megahnya Arc de Triomphe di Paris, lihatlah buatan dalam Negeri, Simpang Lima Gumul, Kediri

Tampak Samping, ornamennya tema Indonesia

Dibagian Tengah, dilihat dari sudut manapun sama sisi.

dari tempat parkir menuju Simpang Lima Gumul, kita akan melewati lorong dibawah jalan, menyebrangi jalan dari bawah, di kanan kiri lorong, terpasang foto-foto tempat-tempat di Kediri.

Giliran foto-foto saya dan mbak Kadek :
 

Hampir semua foto di SLG memicingkan mata saking silaunya. biarpun panas tidak mengurangi antusias pengunjung, semakin sore semakin rame.

Ada mas-mas baik yang menawarkan diri, foto kita berdua, dan ini satu-satunya foto yang ga cuman kelihatan kepala saja, saya memang ga pakai tongsis, karena memang sangat jarang foto-foto. saya lebih memilih tong sis atau tong bro (tolong sis, tolong bro) dari pada Tongsis (tongkat narsis).

Setelah puas foto-foto dan duduk-duduk manis sembari menikmati minuman yang kita bawa, petualangan berlanjut kembali. Karena sudah sore, dan waktu sore yang mepet Maghrib, kita memutuskan untuk muter-muter kota Kediri, dan mbak Kadek mengajak saya ke Kebun Matahari, sayangnya sesampainya disana, Bunga Mataharinya sudah mengering hanya tinggal hitungan jari saja yang masih menguning bunganya. Nah karena jarak tempat Bunga Matahari berdekatan dengan Gua Selomangleng, kita pun mampir dan numpang foto didepan saja. kenapa gak masuk, karena itu sudah mau masuk Maghrib, gak mungkin juga kita harus masuk gua di jam-jam menjelang malam. Setelah muter-muter Kediri dan beli oleh-oleh (kalau yang ini, mbak Kadek yang sregep beli, saya enggak.Haha) kita balik ke Kras rumah mbak Kadek, di perjalanan sempat berhenti makan, Oia saya lupa cerita tentang mbak Norma, seharusnya saya bertemu dengannya juga, karena tempatnya bekerja sedang berUlang tahun, akhirnya kita tidak bisa bertemu, mbak Norma bekerja di salah satu bank Daerah, menelpon kita dan minta maaf karena tidak bisa ikut jalan-jalan, Suatu hari ya mbak Norma, semoga ada kesempatan ke Kediri lagi diwaktu semua bisa bertemu dan lebih lama lagi. Belum mampir rumah mbak Norman juga kan.

Datang disaat yang tidak tepat, kebun bunga mataharinya sudah mulai mengering, menurut cerita yang saya dengar, kebun ini diprakarsai oleh penduduk sekitar. Kreatif ya.

 

Mencari setangkai demi tangkai bunga yang masih bisa diajak foto. haha kebun ini bersebelahan dengan Kantor Rehabilitasi Narkoba, lihat saja plang Stop Narkobanya.
Di kawasan Gua Selomangleng, karena waktunya sudah hampir menjelang malam, dan tempatnya juga mulai sepi, jadi numpang foto di depannya saja. di Area Gua juga ada Pura tempat ibadah ummat Hindu, banyak pohon dan ada beberapa sisi kawasan Gua yang pohonnya mengeluarkan wangi-wangian, jenis pohon apa ini saya kurang paham, mungkin sejenis pohon Tanjung ya.

Gak masuk gak masalah, yang penting sudah Check Poin disini.

Tidak menyesal saya menghabiskan liburan sehari ini bermain ke Kediri. Sesampainya dirumah mbak Kadek, bersih-bersih kita langsung berniat tidur, tapi gak tidur-tidur karena keasikan ngobrol, niatnya mau lihat pertandingan final Olimpiade Bulu Tangkis di TV, sayang channelnya buruk, sambil ngobrol dan terkantuk-kantuk entah siapa yang tidur duluan, akhirnya dua-duanya tepar juga. dan karena keesokan paginya kita sudah mulai masuk kerja, saya memutuskan setelah subuh, harus balik ke Jombang, dan pastinya mbak Kadek juga harus bersiap untuk bekerja. Dan ternyata oleh-oleh yang mbak Kadek beli di Kediri itu untuk saya semua, wah jadi tidak enak, sedangkan saya hanya beli beberapa item saja, karena alasan saya males berat-berat, akhirnya banyak juga bawaannya. Gak terasa saya pamit pulang pada keluarga Bapak Made yang luar biasa baik ini, entah tercipta dari apa keluarga ini, baiknya tidak bisa saya sebutkan dikhawatirkan tampak lebay. Sungguh mereka ini keluarga yang baik dan menjamu tamunya dengan sangat nyaman. Saya lupa berfoto dengan keluarga pak Made, karena pada saat itu Bu Made lagi nyuapin cucunya (ponakan mbak Kadek), jadi tidak enak kalau minta beliau harus foto-foto. Suatu hari semoga ada kesempatan saya kembali lagi kerumah Pak Made Sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat dan membahagiakan seperti ini. Satu doa saya selipkan untuk keluarga ini "Semoga Hidayah menghampiri keluarga ini, semoga mbak Kadek bisa satu perahu dengan Ibu Bapaknya kelak, Amin YRA). Terima kasih untuk satu hari yang menyenangkan ini, satu hari yang luar biasa, sesorean berkelana bersama, mengukuhkan ukhuwah kita yang telah lama tak bertemu. Terima Kasih Mbak Kadek, Ibu, Pak Made dan Keluarga. Jangan Kapok saya datang lagi bikin repot keluarga hangat ini. 

Semoga next trip bisa bareng-bareng dengan kawan-kawan J-48 lainnya #KODEKERAS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari Berkomentar. :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...